Pesawat tempur pertama kali dikembangkan dan digunakan secara aktif pada awal Perang Dunia I [tahun 1914–1915], setelah Wright bersaudara menemukan pesawat terbang bermesin pada tahun 1903
Awal mula perang dunia 1
1914 – 1915
Pada mulanya pesawat terbang hanya di pakai untuk pengintaian musuh namun, para pilot mulai membawa senjata seperti pistol atau karabin di udara
tahun 1915
pilot prancis bernama roland garros memelopori penggunaan senapan mesin yang di sinkronkan agar bisa menembak melewati baling-baling pesawat tanpa merusaknya. inilah yang menandai lahirnya pesawat tempur sejati pertama dalam sejarah militer
Pesawat tempur terus dikembangkan selama Perang Dunia I, untuk menangkal kemampuan pesawat dan balon udara musuh untuk mengumpulkan informasi dengan pengintaian di medan perang. Pesawat tempur generasi awal berukuran sangat kecil dan dipersenjatai secara ringan oleh standar pada masa-masa setelahnya, dan sebagian besar adalah pesawat sayap ganda yang dibuat dengan bingkai kayu yang dilapisi kain, dengan kecepatan udara maksimum sekitar 100 mph (160 km/h). ketika kendali wilayah udara di atas pasukan darat menjadi semakin penting, semua kekuatan utama dunia mengembangkan pesawat tempur untuk mendukung operasi militer mereka. pada periode antar perang, kayu sebagian besar digantikan sebagian atau seluruhnya oleh pipa logam, dan akhirnya struktur kulit aluminium yang ditekan (monocoque) mulai mendominasi.
Saat mulai perag dunia 2 sebagian pesawat temput adalah monople berbahan logam yang di persenjatai ddengan batrei senapan mesin atau meriam dan beberapa mampu mencapai kecepatan mendekati 400mph [640km]. kebanyakan pesawat tempur sampai saat itu memiliki satu mesin tetapi sejumlah pesawat tempur di buat menggunkan mesin ganda namun pesawat bermesin ganda kalah bersaing dengan pesawat tempur bermesin tunggal dan di alihkan ke tugas lain, seperti pesawat tempur malam yang di lengkapi dengan perangkat radar primitif F-16 Fighting Falcon (kiri), P-51D Mustang (bawah), F-86 Sabre (atas), dan F-22 Raptor (kanan) terbang dalam formasi yang mewakili empat generasi pesawat tempur Amerika.
Pesawat tempur adalah pesawat militer sayap tetap yang dirancang terutama untuk pertempuran udara-ke-udara. dalam konflik militer, peran pesawat tempur adalah untuk membangun superioritas udara dalam ruang prtempuran. dominasi wilayah udara di atas medan perang memungkinkan pengebom dan pesawat serang untuk terlibat dalam pengeboman takis dan strategis terhadap target musuh.
Kinerja utama pesawat tempur tidak hanya mencakup daya tembaknya tetapi juga kecepatan tinggi dan kemampuan manuvernya relatif terhadap pesawat target. berhasil atau tidaknya upaya sebuah kombatan untuk mendapatkan superioritas udara bergantung pada beberapa faktor termasuk keterampilan pilotnya, kebenaran taktis dari doktrinnya untuk mengerahkan pesawat tempurnya, dan jumlah serta kinerja pesawat tempur tersebut.
Banyak pesawat tempur modern juga memiliki kemampuan sekunder seperti serangan darat dan beberapa jenis, seperti tempur pengebom, dirancang sejak awal untuk peran ganda. desain pesawat tempur lainnya sangat terspesialisasi sambil tetap mengisi peran superioritas udara utama, dan ini termasuk pencegat, pesawat tempur berat, dan peswat tempur malam.
Baca Artikel Selanjutnya : Hotel Plazuela San
Sejarah
Sejak Perang Dunia I, mencapai dan mempertahankan superioritas udara telah dianggap penting untuk kemenangan dalam peperangan konvensional. Pesawat tempur terus dikembangkan selama Perang Dunia I, untuk menangkal kemampuan pesawat dan balon udara musuh untuk mengumpulkan informasi dengan pengintaian di medan perang. Pesawat tempur generasi awal berukuran sangat kecil dan dipersenjatai secara ringan oleh standar pada masa-masa setelahnya, dan sebagian besar adalah pesawat sayap ganda yang dibuat dengan bingkai kayu yang dilapisi kain, dengan kecepatan udara maksimum sekitar 100 mph (160 km/h). Ketika kendali wilayah udara di atas pasukan darat menjadi semakin penting, semua kekuatan utama dunia mengembangkan pesawat tempur untuk mendukung operasi militer mereka.
